Scoopy Thailand Warna Ungu

  • Bagikan
Scoopy Thailand Warna Ungu
Scoopy Thailand Warna Ungu

Bagaimana mendapatkan scoopy Thailand warna ungu di Indonesia? Jujur saja, hingga kini belum ada Honda Scoopy warna ungu di Indonesia yang seperti versi Thailand. Memang, di Thailand, kembaran Honda Scoopy yang juga terkenal sebagai Scoopy-i tampil penuh warna. Ada sembilan pilihan warna untuk model 2018: Biru Hitam, Perak, Biru, Merah Muda, Hitam, Putih, Merah Tua, Biru Muda, dan Merah Muda.

Scoopy Thailand warna ungu

Yang terlihat seperti warna ungu, adalah pink yang agak tua. Tetapi, ada juga yang lebih muda warnanya.

Lebih menarik, silver dan pink. Scoopy-i Silver begitu elegan, warna ini mendominasi spakbor depan, bodi dan knalpot. Aura klasik tercipta melalui penggunaan jok berwarna coklat. Tak hanya itu, Honda Thailand juga memberikan detail aksen kuning pada kaca spion agar semakin istimewa. Sedangkan untuk pelek sama persis dengan yang ada di Scoopy Indonesia, diameternya 12 inci.

Scoopy-i Pink tak kalah uniknya. Mengapa? Di Indonesia, cat ini belum pernah ada pada sepeda motor produksi pabrik. Di Thailand, Scoopy-i sudah memiliki warna pink sejak tahun lalu. Warna ini memang tidak menempel di sekujur tubuh, hanya dari tengah hingga ujung. Hingga spatbor depan dan kaca spion. Penutup bawah dan saluran pembuangan dilapisi dengan warna berbeda. Gradien merah tua membuatnya terlihat lebih keren.

Desain Scoopy-i berwarna merah muda dan juga lebih sempurna dengan velg spoked 14 inci. Pelek jenis ini jarang digunakan pada skuter modern. Biasanya hanya untuk bahan modifikasi.

Jika tertarik, jangan berharap terlalu banyak dari PT Astra Honda Motor untuk memproduksi scoopy dengan livery serupa di Thailand. Tetapi, Anda bisa menggunakan Scoopy-i sebagai referensi untuk memodifikasi motor Anda.

Kelemahan Scoopy Thailand warna ungu

Meski berpenampilan menarik, Scoopy-i tidak sepenuhnya unggul dari Scoopy di Indonesia. Dari segi fitur, versi Thailand sebenarnya kurang. Misalnya, tidak ada remote control cerdas dengan answer back dan sistem alarm anti-pencurian.

Fitur answer back untuk memudahkan menemukan kendaraan di tempat parkir. Caranya tinggal tekan tombol di remote control dan Scoopy akan berbunyi bip dan lampu akan menyala menandakan keberadaannya. Sistem alarm memiliki fungsi yang sangat penting, terutama untuk melindungi sepeda motor dari pencuri. Saat alarm diaktifkan, mesin akan berbunyi ketika seseorang menyentuhnya dengan gerakan tertentu.

Untuk mesin, tidak ada perbedaan antara Scoopy dan Scoopy-i. Keduanya hadir dengan mesin 108.2cc dan konfigurasi SOHC satu silinder. Jantung mekanis ini juga memiliki teknologi Idle Shutdown System (ISS), yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.

Namun karena perbedaan rasa antara masyarakat Indonesia dan Thailand, penampilan Scoopy juga terlihat berbeda.

Seolah perbedaannya ada pada pilihan warna motor matic bergaya retro ini.

Oh ya, selain warna yang berbeda, Scoopy di Thailand juga hadir dengan pilihan velg yang berbeda. Jadi, ada pilihan velg jari – jari dan pilihan pelek Casting Wheel. Konsumen bisa memilih desain yang sesuai selera. Jadi, bisa bergaya moder dan juga bisa bergaya klasik.

Namun ukuran pelek jari – jari bukan 12 inci seperti pada versi cast wheel, melainkan pelek yang digunakan berukuran 14 inci.

Kesimpulan

Jadi, memang perbedaan Scoopy Thailand dan Indonesia ini paling besar terletak pada pilihan warnanya. Untuk warna scoopy Thailand, cenderung lebih cerah dan lebih berani. Tetapi, Scoopy versi Indonesia lebih kaya fitur.

Sebenarnya, pilihan ini juga tergantung selera konsumen masing – masing. Di Indonesia, segmen sepeda motor memang beragam. Dalam arti usianya mulai belasan tahun hingga usia 70 tahun. Jadi, produsen mesti memperhatikan selera konsumen yang rentangnya jauh ini.

Bagi pabrikan, memilih desain yang kalem dan aman mungkin lebih membantu penjualan. Meskipun begitu, kita juga yakin bahwa motor warna cerah tetap memiliki peminat tersendiri.

Lalu, mengapa pabrik di Indonesia tidak memproduksinya? tentu saja, ini sudah diperhitungkan juga. Semua tentu terkait dengan permintaan, kapasitas produksi dan distribusinya.

Tentu saja, alasannya kembali lagi soal ekonomi. Apakah penjualan yang ada akan sesuai biaya investasinya? Nah, kalau hal ini tentu hanya pihak pabrik yang mengetahuinya.

  • Bagikan